Kasus Pembobolan Rekening Di BRI Mataram Kemungkinan Bertambah

Salah satu bank plat merah atau BUMN yaitu BRI akhirnya mengambil langkah hukum untuk menyelesaikan kasus pembobolan rekening nasabahnya yang disinyalir telah mencapai 230 nasabah. Dalam laporannya tersebut pihak BRI cabang Mataram membawa kamera pinpad dan alat skimmers sebagai barang bukti.

Bagian hukum BRI Denpasar yang mewakili BRI Mataram Wibisana mengatakan bahwa langkah ini dlambil sebagai tindak lanjut dari keluhan nasabah yang dimana para nasabah tersebut mengalami kehilangan sejumlah uang secara misterius.
Kasus Pembobolan Rekening Di BRI Mataram Kemungkinan Bertambah
“Hari ini secara resmi sudah kami laporkan ke polisih,” kata Wisibana di Mataram. Untuk hasil audit sendiri, Wibisana mengatakan bahwa masih dalam proses BRI Mataram. Hingga kemarin, ditemukan 230 nasabah yang melaporkan dugaan pembobolan rekening ini. Dari jumlahnya tersebut, BRI mengaku mengalami kerugian hingga mencapai Rp 1,5 miliar.

“Kemungkinan akan terus bertambah. Ini masih dalah tahap audit dan koordinasi dengna kantor pusat untuk investigasi,” kata Wibisana. Investigasi dari pusat ini untuk memastikan apakah para nasabah yang melapor ini merupakan korban dari skimming atau tidak.

Bila terbukti menjadi korban, maka semua kerugian dari pembobolan ini akan ditanggung oleh BRI. Ketika disinggung mengenai alat skimming di ATM BRI, Wibisana membenarkan bahwa alat skimming ditemukan di sejumlah ATM BRI yang tersebar di lima lokasi yaitu Kota Mataram hingga Lombok Barat. “Terdapat di SPBU Jalan Lingkar, Kafe Mekar di Senggigi. Untuk tiga lainnya saya lupa,” ungkap Wibisana.

Mengenai tidak diketahuinya alat skimming di dalam mesin ATM, Wibisana membantah bahwa terjadi kesalahan dari pihak bank akan tetapi dirinya menganggap ini merupakan tanggung jawab dari vendor ATM.

Wibisana mengatakan bahwa vendor yang memiliki tugas untuk mengawasi hal tersebut. Hal ini disebabkan oleh pengelolaan ATM telah murni diserahkan kepada vendor. Dengan adanya pembobolan rekening ini, vendor dapat dikatakan telah lalai dan pengawasan yang telah dilakukan tidaklah berjalan maksimal.