Berkenalan Di Facebook, Bertemu Dan Merayu, Lalu…

Seorang pengangguran yang berinisial AP berusia 29 tahun yang merupakan warga di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah memanfaatkan media sosial Facebook untuk melakukna tindak kriminal yaitu menipu sekaligus merampas barang milik orang lain. Orang yang menjadi korbannya adalah para guru yang berada di wilayah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Kapolres Tegal AKBP Heru Sutopo SIK mengatakan bahwa terungkapnya kasus ini bermula dari laporan seorang korban. Menurut Heru, salah satu guru yang menjadi korban dari pelaku melapor ke pihak berwajib karena korban tersebut kehilangan barang berharga yang diambil paksa oleh AP di Jalan Lingkar Kota Slawi.

Berbekal laporan tersebut, anak buah Heru langsung melakukan penyelidikan. “Hingga akhirnya berhasil mengamankan pelaku yang berinisial AP yang tinggal di Desa Tegalglagah RT 3 RW 6 Kecamatan Bulakamba Kabupaten Brebes,” ungkpa Heru.

Menurut Heru, modus yang digunakan oleh pelaku adalah membuat akun palsu di Facebook. Selanjutnya, AP mengajak calon korban untuk berkenalan. Ketika korban dan pelaku sudah berkenalan, pelaku lalu mengajak untuk bertemu. Ketika telah bertemu, barulah AP beraksi. “Setelah bertemu dengan calon korban, barang milik korban kemudian di ambil dengna paksa disertai dengan perbuatan kekerasan,” jelas Heru.

Lebih lanjut Heru mengatakan bahwa hasil penyelidikan sementara menemukan bahwa pelaku telah berulang kali melakukan aksinya dengan modus yang sama hanya perbedaannya adalah pada lokasi. Menurut Heru, pelaku telah pernah beraksi di Kecamatan Lebaksiu, Objek Wisata Purin Suraradi, Objek Wisata Cacaban Kecataman Kedungbanteng, Mjeasem Kecamatan Kramat, Kalisoka Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal, Objek Wisata Gunung Gajah Kecamatan Warureja. Bahkan pelaku juga pernah beraksi di Bantarbolang, Kabupaten Pemalang.

Dari tangan pelaku ditemukan sejumlah alat bukti yang diantaranya HP Samsung dan seuntai kalung emas putih. Karena perbuatannya, pelaku diancam dengan pidana penjara,” kata Heru.

Sindikat Penjual Bayi Ini Telah Pernah Jual Bayi Rp 50 Juta

Kasus sindikat perdagangan bayi dengan terdakwa Buyung, Yuliana dan Ermanila kembali disidangkan di Pengadilan Negeri Batam pada hari Rabu 14 December 2016.

Sidang kali ini telah mengagendakan untuk memeriksa para terdakwa. Terungkap bawha keberhasilan para pelaku yang menjual seorang bayi dengan harga Rp 50 juta sebelum kasus ini merebak ke publik. Terdakwa Buyung mengatakan bawha pratek penjualan bayi kepada Apui yang berusia 2 bulan ini terjadi karena telah sindikat ini telah pernah berhasil menjual bayi sebelumnya.

“Ini adalah aksi kedua kalinya yang mulia,” kata Buyung. Dirinya menjelaskan bawha aksi ini berawal dari infromasi Yuliana yang mengatakan pada dirinya bahwa terdapat bayi keturunan Tionghoa yang berasal dari Selat Panjang yang ingin dijual.

“Mendapati kabar tersebut, saya mencari orang yang mau membeli yang dimana kebetulan adalah sepusu saya sendiri, Akun,” lanjut Akun yang dibenarkan oleh istri terdakwa Ermanila. Transaksi penjualan bayi tersebut terjadi kurang lebih 1 tahun yang lalu. Dari transaksi tersebut, Buyung mengatakan bahwa dirinya menerima uang sebesar Rp 50 juta dari Akun.

“Sesuai kesepakatan, saya menyerahkan uang tersebut kepada Yuliana sebear Rp 45 juta kepada orang tua bayi dan sisa 5 juta kami ambil sebagai upah kami,” kata Buyung.

Setelah enam bulan berselang tepatnya pada Juni lalu, Yuliana kembali menghubungi Buyung untuk memberitahukan bahwa bayi dari bibi-nya yang ingin diadopsi yaitu Apui. “Saya tinggal di Pekanbaru. Istri saya kemudian pergi ke Karimun untuk menemui Yuliana dan bersama-sama menuju Batam untuk melihat bayi Apui,” jelas Buyung.

Setelah mendapatkan pembeli yang berasal dari Singapura yaitu Edi, Buyung pergi ke Batam untuk melanjutkan transaksi tersebut yang dimana disepakati harga SGD 6.000 atau sekitar Rp 60 juta.
Dari harga tersebut, Yuliana memberikan syarat agar uang adopsi bayi tersebut dibayarkan Rp 40 juta kepada orang tua bayi dan sisanya Rp 20 juta sebagai upah.

“Namun ketika transaksi dirumah Edi, Ahiang di Bengkong, datang polisi yang menyamar yang ingin menawar dengan SGD 8.000. Kami langsung ditangkap disana,” jelas Buyung dan Ermanila. Sementara itu Yuliana membantah semua pernyataan pasutri tersebut dan mengatakan bahwa dirinya baru kenal 2 minggu dengan mereka sebelum penangkapan.

“Tidak pernah saya menjual bayi sebelumnya. Saya orang yang tidak berpendidikan yang mulia. Baca tulis saja tidak bisa karena tidak pernah sekolah,” ucap Yuliana yang berurai air mata. Yuliana juga membantah semua isi dari BAP yang berasal dari penyidik dan mengatakan bawha dirinya dipaksa untuk tanda tangan karena diancam suami nya akan juga dipenjara jika tidak mau tanda tangani BAP tersebut.

Selanjutnya para terdakwa akan menghadapi sidang yang mengagendakan penuntutan pada pekan depan.